Anak Suka Mencuri, Salah Siapa ?


 Anak Suka Mencuri, Salah Siapa ?Mencuri merupakan salah satu perilaku yang sangat buruk dan harus segera ditangani dengan serius. Bila tidak, khawatir perilaku buruk tersebut menjadi suatu kebiasaan yang akan terbawa sampai ia dewasa kelak.

Pada umumnya, orangtua pasti akan merasa kaget, kecewa, dan malu bila mengetahui bahwa anak mereka telah mencuri sesuatu milik orang lain. Namun, janganlah orangtua bertindak tergesa-gesa, langsung marah-marah kepada anak, apalagi menghukumnya dengan cara yang berlebihan. Sebab, tidak semua anak mencuri karena niat yang sudah direncanakan. Menurut Rini Utami Aziz (2006) ada beberapa hal yang menyebabkan anak mencuri, di antaranya adalah:

  1. Mencuri karena tidak mengerti. Sebagian dari mereka ada yang mengambil barang milik orang lain karena ia belum mengerti tentang maksud dari kepemilikan suatu barang. Ia belum dapat membedakan mana barang milik sendiri dan yang mana barang milik orang lain. Biasanya tindakan ini terjadi pada anak usia 3-5 tahun. Anak di usia ini sering menganggap bahwa semua barang yang ada dihadapannya adalah miliknya sendiri.
  2. Mencuri karena kebutuhan identitas diri. Anak mencuri karena ia memiliki kebutuhan yang khas akan identitas diri dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya yang ia idolakan.
  3. Mencuri karena mencontoh yang salah. Anak mencuri karena melihat orangtua (ibu atau ayah) mengambil barang yang bukan miliknya. Ketidakjujuran yang dilakukan orangtua di rumah bisa mendorong kecenderungan mencuri pada anak-anak. Jika orang tua mencuri, kemungkinan anak akan melakukan perbuatan serupa. Teladan buruk dari teman-teman, balas dendam, kepribadian antisosial, kemiskinan dan sebagainya, merupakan penyebab utama seorang anak mencuri.
  4. Mencuri karena tekanan. Anak mencuri karena ada tekanan akan kebutuhan dan keinginannya. Anak ini mencuri karena terpaksa. Misalnya, anak ingin makanan tetapi tidak diberi uang jajan oleh orangtuanya. Akhirnya ia terpaksa mencuri uang temannya untuk membeli makanan.
  5. Mencuri karena gangguan kejiwaan (kleptomania). Anak mencuri karena adanya gangguan kejiwaan. Ia mencuri bukan karena ’kemauannya’. Barang yang dicuri penderita kleptomania sebenarnya mampu ia beli. Namun, ketika mencuri, anak merasa terlepas dari impitan perasaan yang membelenggunya. Setelah itu perasaan bersalah kemudian menderanya.
  6. Orang tua tidak memenuhi kebutuhan anak, anak akan mencuri. Mencuri biasanya dimulai di rumah, terutama dimulai dengan mencuri dari ibu dan ayah. Sekali si anak berhasil melakukannya, ia merasa terdorong untuk mengulanginya terus. Anak-anak dari keluarga antisosial dan keluarga miskin memiliki kemungkinan paling besar untuk mencuri.

Menyikapi hal di atas, menjadi sangat penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak sejak dini tentang kepemilikan suatu barang. Dengan demikian, anak akan mengerti bahwa ada barang milik orang lain yang tidak boleh diambil tanpa seizin pemiliknya. Selain itu, jika orangtua tidak ingin memiliki anak berperilaku buruk (mencuri) maka berikanlah teladan yang baik kepadanya. Misalnya, tidak mengambil uang dari dompet pasangan tanpa meminta izin terlebih dahulu. Seorang anak yang pernah melihat tindakan seperti itu akan mudah untuk menirunya.

Hal lain yang tidak kalah pentingnnya bagi orangtua untuk menghindarkan anak dari perilaku mencuri, adalah menjelaskan kepadanya bahwa perbuatan mencuri itu sangat buruk dan berdosa hukumnya. Tekankan pula kepada anak dengan cara yang bijak bahwa ada Yang Maha Melihat atas segala yang tidak disembunyian dan disembunyikan makhluk-Nya. Anak kecil umumnya memiliki keinginan alamiah untuk mendapatkan semua yang mereka inginkan. Bagaimana kalau suka mengambil milik orang lain? Jangan biarkan.

Kalau seorang anak mencuri, ia harus diminta untuk mengembalikan benda itu kepada pemiliknya, betapa pun memalukan dan sulitnya situasi. Cobalah mencari tahu apa penyebab anak sampai mencuri dan atasilah penyebab itu. Orangtua juga harus menahan diri untuk tidak mencuri dan untuk berperilaku baik agar menjadi panutan anaknya.

Konflik dalam keluarga, terutama antara orangtua dan anak, harus diselesaikan. Anda harus memenuhi kebutuhan anak yang memang benar-benar diperlukannya. Selain itu, perhatikan juga teman-teman sepergaulannya.

facebook comments:


Leave a Reply

hutantropis.com - Majalah Onlineclose