Waktu Yang Tepat Minum Obat


cara minum obat Waktu Yang Tepat Minum ObatSeringkali kita temui orang berkata “Aku harus minum obat tapi belum makan, gimana ya?”. Ya, kebanyakan orang merasa wajib makan sebelum minum obat sebagai “alas”. Ada pula yang mewajibkan diri minum obat dengan air putih. Baginya “haram” hukumnya minum obat selain dengan air putih, misalnya susu, the, dsb. Mereka melakukan itu dengan harapan obat yang mereka minum akan beraksi dengan baik dan tanpa menimbulkan efek samping yang merugikan.

Tapi benarkah bahwa semua obat harus diminum sesudah makan? Juga apakah benar obat harus diminum dengan air putih? Bagaimana sebenarnya cara yang tepat minum obat agar obat yang diminum dapat memberikan efek yang optimal seperti yang diharapkan?

Ketika suatu obat diminum, dalam arti dimasukkan ke tubuh melalui mulut, dia akan masuk ke lambung dan selanjutnya dikeluarkan dari lambung menuju usus halus untuk diserap lalu diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh. Obat yang diminum tidak mungkin dapat memberikan efek apa pun tanpa diserap (kecuali obat cacing dan beberapa obat maag. Keduanya memang tidak ditujukan untuk diserap). Sebagian besar obat diserap di usus halus meski memang ada sebagian yang diserap di lambung. Hal ini karena permukaan usus jauh lebih luas dari pada permukaan lambung. Sampai di sini, dapat kita ketahui bahwa optimal atau tidaknya efek obat yang kita minum dipengaruhi oleh keadaan lambung, usus halus, dan darah.

Kita tahu bahwa lambung dan usus kita tidak hanya berisi obat saja. Bukankah yang kita masukkan ke mulut kita bukan hanya obat? Maka, tidak bisa dihindari bahwa obat pasti akan berinteraksi dengan makanan yang ada di dalam lambung dan usus. Bentuk interaksi obat – makanan ini bermacam – macam, bisa mempermudah absorpsi (penyerapan obat ke darah), menghalangi absorbsi, atau sama sekali tidak mempengaruhi absorbsi maupun efek obat. Untuk memudahkan pembahasan, maka interaksi yang tidak mempengaruhi absorbsi dan efek obat kita anggap “tidak terjadi interaksi”.

Ada atau tidak adanya interaksi ini menentukan kapan waktu yang tepat untuk minum obat: apakah sebelum atau sesudah makan. Yang dimaksud dengan “sebelum makan” adalah ketika perut kita dalam keadaan kosong. Tidak sebatas belum makan besar (nasi, roti, mie, dll). Kalau belum makan besar tetapi sejak 4 jam sebelumnya tidak henti – hentinya ngemil, ya sama saja keadaannya dengan keadaan “sesudah makan”.

Sedangkan yang dimaksud keadaan “seusudah makan” adalah keadaan ketika perut kita “penuh” mankanan, atau secara sederhana bisa dianggap sebagai selang waktu kurang dari 2 jam setelah makan. Misalnya kita sarapan pukul 7 dan tidak makan makanan apa pun, maka yang dianggap keadaan “sesudah makan” adalah sejak kita selesai sarapan sampai maksimal pukul 9. Setelah pukul 9 (jika tetap tidak makan makanan lagi), maka dianggap keadaannya sama dengan keadaan “sebelum makan” karena sebagian besar sarapan kita tadi sudah diolah dan diserap.

Beberapa obat yang sebaiknya diminum sebelum makan misalnya antibiotika erythromycin dan amoxicillin, serta obat penurun panas paracetamol. Obat yang sebaiknya diminum tepat sebelum makan (bukan dalam keadaan perut kosong sama sekali dan tidak berencana makan) misalnya obat – obat antidiabetes golongan sulfonylurea seperti glibenklamid. Sedangkan obat – obat yang sebaiknya diminum sesudah makan antara lain obat – obat untuk epilepsy seperti fenitoin, dan obat hipertensi seperti propanolol.

Obat lain yang sebaiknya diminum setelah makan bukan karena alasan kemudahan absorbsi melainkan karena sifat obat itu sendiri yang berbahaya jika diminum ketika perut kosong antara lain aspirin atau asetosal, obat golongan kortikosteroid (deksametason, hidrokortison, dll), dan obat – obat antiradang (diklofenak, piroksikam, dll). Obat – obat tersebut dapat mengakibatkan tukak lambung atau memperparah sakit maag sehingga sebaiknya diminum setelah makan.

Selain keadaan penuh/kosongnya perut (lambung dan usus) dari makanan secara umum, absorbsi (penyerapan) obat – obat tertentu juga bisa dipengaruhi oleh jenis makanan tertentu. Contoh yang sangat terkenal adalah salah satu antibiotika, yaitu tetrasiklin. Tetrasiklin dapat berinteraksi dengan kalsium mebentuk suatu senyawa yang tidak mudah diserap. Sehingga, ketika mengkonsumsi tetrasiklinharus menghindari makanan – makanan yang banyak mengandung kalsium seperti susu, keju, dan sejenisnya.

Antibiotika lain seperti siprofloksasin dan ofloksasin (golongan kuinolon) juga dapat mengikat logam – logam seperti kalsium, magnesium, dan aluminium sehingga konsumsi antibiotika tersebut dengan makanan yang mengandung kalsium, magnesium, dan aluminium akan menghalangi absorbsi dan pada gilirannya dapat menurunkan efek obat. Sebagai informasi tambahan, obat maag golongan antasida juga mengandung logam – logam tersebut sehingga konsumsi antibiotic bersamaan dengan antasida harus dihindari. Kalaupun keadaan penyakitnya memaksa untuk mengkonsumsi kedua jenis oba tersebut, maka sebaiknya diberi selang waktu minimal 2 jam. Misalnya antibiotic diminum pukul 7, maka antasida-nya baru diminum setelah pukul 9.

Selain interaksi yang bersifat “negatif” (dalam artian mengurangi efek obat), ada juga interaksi yang bersifat “positif” (dalam artian menguatkan efek obat). Obat – obat yang mengandung kalium tentu akan berinteraksi “positif” dengan makanan yang banyak mengandung kalium seperti pisang dan kentang. Tetapi perlu diingat, interaksi “positif” di sini bukan berarti selalu menghasilkan efek yang positif tapi malah bisa merugikan (makanya, kata positif saya tulis dengan tanda petik “…”). Obat yang kita minum, sudah dihitung dosisinya sesuai kebutuhan untuk memberikan efek yang diharapkan (tidak terlalu kecil, maupun terlalu besar). Nah, kalau kita mengkonsumsi obat denga makanan yang dapat berinteraksi “positif” dengannya dalam jumlah berlebihan, apakah tidak ada kemungkinan efek yang ditimbulkan akan berlebihan atau dalam istilah sederhananya “over dosis”? Terutama jika obat yang kita konsumsi adalah obat – obat yang sangat poten.

Kesimpulannya, selama obat yang hendak kkta minum tidak berinteraksi dengan makanan, maka boleh – boleh saja kita mengkonsumsinya dengan makanan tersebut. Misalnya jika kita suka strawberry juice, dan obat yang hendak kita minum tidak berinteraksi dengan strawberry juice, maka boleh – boleh saja kita mencampurkan obat tersebut ke dalam strawberry juice agar tidak terasa pahitnya. Lalu, dari mana kita tahu obat ini berinteraksi dengan apa saja? Tanyakan pada Apoteker! Itulah salah satu tugas Apoteker: memberikan penjelasan sejelas – jelasnya kepada pasien tentang obat yang diterimanya. Itulah juga bedanya membeli obat di Apotek dengan membeli obat di toko obat.

Selain dipengaruhi keberadaan makanan, absorbsi obat juga dipengaruhi oleh jumlah cairan yang tersedia. Dalam Handbook of Food – Drug Interaction (2003), disebutkan bahwa jumlah air yang diminum ketika meminum obat dapat mempengaruhi absorbsi obat bahkan dapat mempengaruhi onset (waktu yang dibutuhkan sejak obat diminum hingga obat mulai memberikan efek), durasi (waktu yang dihitung sejak obat mulai memberikan efek hingga obat tidak lagi memberikan efek), dan intensitasnya (efek maksimal yang mampu diberikan oleh obat). Kenyataan ini terlihat dari hasil penelitian yang menggunakan antibiotic erythromycin. Penelitian tersebut menunjukkan erythromycin yang diminum bersamaan dengan 250 – 500mL air diserap secara lebih baikdaripada erythromycin yang diminum hanya dengan 20mL air. Artinya, semakin banyak air yang diminum ketika mengkonsumsi erythromycin, absorbsinya semakin baik.

Mungkin akan muncul pertanyaan “Lha, kalo setiap kali minum obat harus dibarengi minum 250 – 500mL air, apa ga kembung?”. Hasil penelitian tersebut tidak berarti mengharuskan kita untuk meminum air sebanyak itu ketika mengkonsumsi obat. Penelitian tersebut hanya merekomendasikan kepada kita untuk konsisten dalam hal bagaimana kita mengkonsumsi obat: apakah dengan air sebanyak 20mL (mewakili konsumsi air yang sedikit) atau dengan 250 – 500mL air (mewakili konsumsi air yang banyak). Jika kita “nyaman” dengan konsumsi obat bersamaan dengan segelas air, maka setiap kali minum obat lakukanlah air sebanyak itu. Jangan hari ini minum dengan segelas air, besok minum obat dengan sebotol air, besoknya lagi minum obat tanpa air. Hal ini terkait dengan pengaturan dosis yang tepat. (Penjelasan lebih lengkap silakan dating ke Apotek terdekat dan konsultasikan ke Apotekernya. Tanya saya juga boleh kalau memang kenal saya. Maaf, agak kesulitan dalam menjelaskannya dalam bentuk tulisan. Lebih enak menjelaskan dengan lisan.)

Oiya, satu hal lagi yang sering dibahas tetapi sering juga dilupakan atau malah disalahpahami adalah terkait interval minum obat. Ketika dokter meresepkan obat ini harus diminum 3×1 sehari, artinya obat tersebut harus diminum setiap (24 jam / 3 =) 8 jam sekali dengan tiap kali minum adalah 1 (tablet, pil, kapsul, sendok, dsb). Angka 3×1 tidak sekadar menunjukkan frekuensi dan jumlah obat yang diminum, melainkna juga menunjukkan interval waktu yang tepat untuk minum obat. Jadi, jika pertama kali minum obat adalah pukul 6 pagi, maka obat kedua diminum pukul 14, dan obat ketiga diminum pada pukul 22.

Bukan obat pertama diminum saat sarapan, obat kedua diminum saat lunch, obat ketiga diminum saat dinner. Ya kalau sarapan, lunch, dan dinner-nya maasing – masing berinterval 8 jam sih tidak masalah. Demikian pula jika instruksinya 2x sehari, itu artinya diminum setiap 12 jam sekali. Hal ini terkait dengan jumlah obat yang diharapkan ada di dalam darah agar selalu konstan dan dalam kisaran “kadar” terapi (“kadar” yang cukup untuk memberikan efek yang diharapkan tanpa menimbulkan efek yang berbahaya). (sumber : coretanfifi.wordpress.com)

Comments Closed

Comments are closed.

hutantropis.com - Majalah Onlineclose